Sore hari, ditepian ombak pantai laut selatan di jogja. Saya dan 3 orang teman saya dari bandung dan depok hunting photo mengejar sunset. Ketika matahari masih terlalu tinggi untuk diabadikan cahayanya, salah satu teman saya buang air kecil di semak-semak. Teman saya agak ngeri rupanya, mengingat itu di pantai LAUT SELATAN. Yang satunya lagi hanya bilang,
"gak apa-apa, baca bismilah dulu aja"
"nyi Roro kidul juga tajut ama Allah" sambung saya
"eh omongan lo di jaga coy " kata teman saya yang juga takut sepertinya
Ini yang saya heran. Ketika soal omongan saja kita gesit menjaga, tapi mengapa masalah shalat dengan mudahnya melalaikan? lalu dimana keimanan kita?
Saya katakan, saya tidak takut dengan copet. saya lebih takut dengan preman dibelakangnya yang menagih jatah setoran pada para pencopet. Bukan takabur, Ada Dzat yang lebih besar jika hanya dibandingkan dengan nyi Roro kidul, si Ratu penguasa laut selatan (katanya).
Adik saya yang masih SD pernah berbicara pada saya.
"kak, kenapa ya? temen-temen opa (namanya Aufa) tuh sering cerita hantu-hantu gitu. opa juga ngarang-ngarang cerita sendiri. kita tuh sama-sama tau itu boong. tapi masih aja diterusin"
Pertama, saya agak bingung kenapa anak SD mikirnya sejauh itu. Kedua, itulah kenyataan orang Indonesia yang tidak bisa lepas dari hal-hal gaib negatif (jin,setan,kutukan) ketimbang kepercayaannya pada hal gaib lain (surga-neraka, malaikat, Allah). terbukti ketika saya berada di sebuah warung makan, orang menonton siaran sepak bola sambil makan dengan tenangnya. ketika acara TV menjadi "[bukan] dunia lain" mereka menjadi lebih antusias, beberapa bahkan menonton sambil berdiri lupa untuk duduk menyantap makanannya. ini nyata, dan inilah kenyataan. Sehingga tidak mengherankan, hantu dan porno adalah elemen film yang paling banyak ditonton orang Indonesia.
Ada lagi. Ketika saya dan teman SMA saya dari Bekasi yang juga berkuliah di jogja sedang bersama-sama menonton berita kilas balik musibah Merapi dan tewasnya Mbah Marijan, dia berkomentar.
"waduh, kacau ya Mbah Marijan meninggal. Ntar siapa lagi yang jagain Merapi?"
Buset! anak mall kok pikirannya masih candi?
Pantas orang Indonesia terbelakang. Ketika orang barat sangat patuh pada perintah rajanya untuk menguasai dunia, orang Indonesia lebih percaya mitos juga wejangan para dukun dan kuncen. Ketika orang barat berani menembus samudra demi mencari daratan baru, orang Indonesia takut akan pantangan-pantangan jin penguasa laut. Ketika orang barat berlomba-lomba membuat penemuan, orang Indonesia sibuk membuat sesajen. ketika orang barat berkutat pada film dengan grafik tinggi macam transformers, orang indonesia hanya mampu membuat film "Siluman Pinguin Diperkosa".
sedih.
Percaya atau tidak, ketakutan akan hal yang tidak real termasuk dalam golongan KELAINAN PSIKIS. Namun budaya di Indonesia yang membuat penyakit tersebut sebagai hal yang wajar. penyakit kok wajar? flu aja yang wajar harus disembuhin.
Selasa, 31 Januari 2012
Rabu, 31 Agustus 2011
Harga harus mahal, tapi makna jauh lebih mahal
saya heran,
ketika cowo bilang: "wanita itu indah ya. diciptakan lembut dan penuh kasih sayang"
dalam hati, mereka akan sangat bahagia jika dibalas "ah bisa saja. pria juga hebat. diciptakan tahan banting diluar, tapi amat hangat didalam" indahnya..
tetapi yang didapat
cewe: "iya dong! ceweeeee.. emangnya laki? suka kasar, ga punya hati! maen poligami seenaknya!"
dipuji, kok banggain diri sendiri, dilanjutin ngehina? sakit men! sakit!
jujur saja pada kenyataan. mana yang lebih banyak, pujian laki-laki ke perempuan atau perempuan ke laki-laki? saya rasa ini bukan soal takdir seorang pria untuk 'membeli' dan wanita yang 'menjual'. tapi ini soal saling 'meng-hargai' apa yang diperdagangkan, perbedaan
ketika cowo bilang: "wanita itu indah ya. diciptakan lembut dan penuh kasih sayang"
dalam hati, mereka akan sangat bahagia jika dibalas "ah bisa saja. pria juga hebat. diciptakan tahan banting diluar, tapi amat hangat didalam" indahnya..
tetapi yang didapat
cewe: "iya dong! ceweeeee.. emangnya laki? suka kasar, ga punya hati! maen poligami seenaknya!"
dipuji, kok banggain diri sendiri, dilanjutin ngehina? sakit men! sakit!
jujur saja pada kenyataan. mana yang lebih banyak, pujian laki-laki ke perempuan atau perempuan ke laki-laki? saya rasa ini bukan soal takdir seorang pria untuk 'membeli' dan wanita yang 'menjual'. tapi ini soal saling 'meng-hargai' apa yang diperdagangkan, perbedaan
Rabu, 20 Juli 2011
entah apa nama ilmiahnya
sebagai manusia, entah apa nama ilmiahnya, pernahkah anda bertemu suatu hal yang membawa anda ke memori lain?
contoh setiap anda melihat pocong, anda akan teringat ketika anda menakuti teman anda dengan dandanan ala pocong. atau bahkan dari suatu hal yang sebetulnya tidak ada korelasinya sama sekali. seperti misalnya ketika anda mendengar lagu hijau daun (kan contoh namanya juga) anda akan terbawa kedalam memori ketika anda berada pada kelas disuatu hari ketika SMA. lengkap dengan segala detail yang ada disitu.
saya pun begitu (karena bagaimanapun, saya juga manusia). Dan mungkin karena hampir tidak ada kegiatan apa-apa akhir-akhir ini, membuat saya merasakan hal itu lebih sering dari biasanya. bahkan tidur siang menjadi lebih bermimpi daripada tidur malam saya. Gila, sampai sebosan itukah saya? ya setidaknya ada waktu mengenang hal-hal lucu, bodoh, sampai yang teramat sangat bodoh.
Pastilah ada hal yang saya sesali dari sekian banyak yang teringat kembali itu. tetapi kembali tertutupi dengan hal-hal lucu tadi. membuat saya tertawa sendiri sesekali. Gila? ya memang. tapi gila yang seperti ini menurut saya yang menyenangkan
contoh setiap anda melihat pocong, anda akan teringat ketika anda menakuti teman anda dengan dandanan ala pocong. atau bahkan dari suatu hal yang sebetulnya tidak ada korelasinya sama sekali. seperti misalnya ketika anda mendengar lagu hijau daun (kan contoh namanya juga) anda akan terbawa kedalam memori ketika anda berada pada kelas disuatu hari ketika SMA. lengkap dengan segala detail yang ada disitu.
saya pun begitu (karena bagaimanapun, saya juga manusia). Dan mungkin karena hampir tidak ada kegiatan apa-apa akhir-akhir ini, membuat saya merasakan hal itu lebih sering dari biasanya. bahkan tidur siang menjadi lebih bermimpi daripada tidur malam saya. Gila, sampai sebosan itukah saya? ya setidaknya ada waktu mengenang hal-hal lucu, bodoh, sampai yang teramat sangat bodoh.
Pastilah ada hal yang saya sesali dari sekian banyak yang teringat kembali itu. tetapi kembali tertutupi dengan hal-hal lucu tadi. membuat saya tertawa sendiri sesekali. Gila? ya memang. tapi gila yang seperti ini menurut saya yang menyenangkan
Label:
exp
Rabu, 29 Juni 2011
tak selalu, yang berkilau itu indah
Dari semalam di timeline sudah banyak yang membahas soal pengumuman hasil snmptn. Jujur, lebih besar rasa sedih saya melihat yang tidak diterima, dari pada besarnya kebahagiaan saya melihat yang diterima. Itulah mengapa hanya sedikit yang saya berikan selamat atas diterimanya mereka, dan memilih diam untuk tidak membahas soal snmptn kepada yang tidak diterima. walaupun tidak semua yang tidak diterima itu menangis, tetapi saya berharap, amat sangat berharap, mereka bukan sekedar diberikan ke-legowo-an, tetapi juga diberikan kebermaknaan bahwa melewati jalan setapak yang mereka pilih, tak akan semulus jalan TOL yang ditunjukan Tuhan. bisa saja, angkatan tahun '93 sangat ketat persaingannya di fakultas yang anda inginkan, sehingga akan lebih baik mengikuti tes tahun depan karena mungkin di angkatan '94 lebih renggang, jadi tak perlu mengambil fakultas yang ga jelas hanya untuk dapat masuk universitas ternama. Bisa saja di daerah tempat tujuan PTN yang anda pilih, akan ada gempa di awal semester, sehingga beberapa bangunan kampus anda harus direnovasi total selama beberapa belas bulan, dan mengganggu kegiatan perkuliahan anda hingga mengharuskan anda memulai kuliah ditahun depan. Bisa saja tahun depan ada penawaran beasiswa mahasiswa/i baru ke prancis, sehingga ada kesempatan untuk kursus intensif bahasa selama setahun. Atau bisa jadi ada PTS yang menawarkan beasiswa hingga program doktoral dan memiliki ikatan kerja multinasional. Loh? Siapa yang tahu? bukankah yang menciptakan TOL lebih tahu bepangkal dan bermuaranya TOL tersebut?
Label:
exp
Minggu, 12 Juni 2011
Kuliah
jujur, pada awalnya saya sangat semangat untuk tidak melanjutkan kuliah selulusnya saya dari SMA. karena saya merasa berkecukupan dan memiliki masa depan yang cukup cerah, mengingat sejak SMA saya sudah kerja paruh waktu setiap sabtu dan minggu di bagian produksi salah satu usaha milik ayah saya. Mulai dari membeli barang-barang ga penting yang harganya ratusan ribu, hingga membeli sepeda, handphone, dan laptop yang berharga jutaan bisa saya dapatkan dengan GAJI PROFESIONAL (bukan gaji yang dilebih-lebihkan dari belas kasih orangtua ke anaknya) yang saya dapatkan. makanya saya tidak mengikuti SNMPTN. Memang selepas SMP saya memiliki cita-cita untuk berwirausaha (tapi entah mengapaSMA bisa masuk jurusan IPA). Bagi wirausaha, bukan gelar yang membuatnya sukses, tapi pengalaman. dan pengalaman mulai dari menjadi pelayan, kasir, hingga memegang anak perusahaan kecil-kecilan ayah saya sudah saya rasakan. Dari mengantar minuman ke meja pelanggan, hingga mengatur jadwal meeting dengan client juga sudah saya dapatkan. cukup? saya rasa. Itulah mengapa ketika saya mengambil keputusan untuk tidak kuliah, malah mendapat dukungan dari ayah saya. Namun ibu saya yang kemudian bersikukuh mengkuliahkan saya dengan asumsi, "orang ga kuliah aja bisa jadi wirausaha. berarti lulusan kuliah justru bisa lebih sukses". mau bilang apa saya? padahal pada mulanya pikiran pendek saya adalah mungkin ketika teman-teman saya baru selesai wisuda dan bingung mencari kerja, saya sudah bisa mengontrak rumah dan membeli mobil dari uang sendiri.
Oke, saya kuliah. Saya coba test salah satu PTS di jogja sebatas cadangan. anehnya, ibu saya malah mengontrak didaerah sini (jogja). ketika saya tanya,
"lah kok? kan belom nyoba tes UM di PTN?"
"oh mau tes juga? yaudah" kata nyokap (padahal udah bayar penuh)
ya mau bagaimana? yang penting kuliahnya, bukan dimananya kan? lagi pula banyak pertimbangan. selain karena ayah saya juga memiliki salah satu cabang usahanya disini, pengeluaran juga bisa ditekan mengingat kakak saya yang sudah lebih dulu memulai kuliah di jogja. yah, bagaimanapun Ridhallah, fi ridha walidayin. Mungkin dengan jalan ini saya bisa lebih sukses (amin)
Oke, saya kuliah. Saya coba test salah satu PTS di jogja sebatas cadangan. anehnya, ibu saya malah mengontrak didaerah sini (jogja). ketika saya tanya,
"lah kok? kan belom nyoba tes UM di PTN?"
"oh mau tes juga? yaudah" kata nyokap (padahal udah bayar penuh)
ya mau bagaimana? yang penting kuliahnya, bukan dimananya kan? lagi pula banyak pertimbangan. selain karena ayah saya juga memiliki salah satu cabang usahanya disini, pengeluaran juga bisa ditekan mengingat kakak saya yang sudah lebih dulu memulai kuliah di jogja. yah, bagaimanapun Ridhallah, fi ridha walidayin. Mungkin dengan jalan ini saya bisa lebih sukses (amin)
Label:
exp
Sabtu, 30 April 2011
Penyesalan Tikus tanah
ya, hampir. atau setiap kali bahkan, penggunaan foto saya sebagai identitas di jejaring sosial menggunakan objek lain dan bukan dengan wajah saya.
bukan karena takut dijadikan bahan santet, tissue cebok, dan sebagainya. ini lebih ke pribadi saya yang tidak PeDe rasanya jika setiap membuka situs-situs social network harus ditatap oleh gambar mati diri sendiri dari layar LCD dengan lirikan binal. oke, mungkin tidak harus seperti itu, tetapi memang bagi saya melihat segala macam lensa adalah bagai tikus tanah menatap mentari. MEMATIKAN
ketika kemudian saya melihat foto-foto SMP, seperti ada yang kurang. foto yang ada saya-nya, bisa dihitung dengan jari (dengan jari satu tangan) dan itupun masih ada beberapa jari yang tidak ikut tegak berdiri. amat sedikit.
barulah saya mulai tersadar bahwa foto juga membawa kenangan.
walau pahit, saya berusaha untuk meredam keinginan saya untuk membunuh orang yang memotret saya (memfoto/memoto=kata rancu) dengan senyuman. itupun hanya segelintir foto yang berhasil senyum.
sisanya, masih terlihat ingin membunuh.
sekarang sudah berakhir masa putih-abuabu. telat jika harus menyesali sedikitnya foto saat masih di kelas 10 dan 11. lalu kelas 12? sudah cukup dengan buku tahunan.
hanya tinggal menunggu hari, saya harus meninggalkan tempat ini menuju bangku perkuliahan.
anyer dan bekasi adalah untaian sejarah tak terputus bagi saya.
semoga kisah lorong gelap bawah tanah, bisa tersinari cahaya mentari di keesokan pagi
-wassalam
bukan karena takut dijadikan bahan santet, tissue cebok, dan sebagainya. ini lebih ke pribadi saya yang tidak PeDe rasanya jika setiap membuka situs-situs social network harus ditatap oleh gambar mati diri sendiri dari layar LCD dengan lirikan binal. oke, mungkin tidak harus seperti itu, tetapi memang bagi saya melihat segala macam lensa adalah bagai tikus tanah menatap mentari. MEMATIKAN
ketika kemudian saya melihat foto-foto SMP, seperti ada yang kurang. foto yang ada saya-nya, bisa dihitung dengan jari (dengan jari satu tangan) dan itupun masih ada beberapa jari yang tidak ikut tegak berdiri. amat sedikit.
barulah saya mulai tersadar bahwa foto juga membawa kenangan.
walau pahit, saya berusaha untuk meredam keinginan saya untuk membunuh orang yang memotret saya (memfoto/memoto=kata rancu) dengan senyuman. itupun hanya segelintir foto yang berhasil senyum.
sisanya, masih terlihat ingin membunuh.
sekarang sudah berakhir masa putih-abuabu. telat jika harus menyesali sedikitnya foto saat masih di kelas 10 dan 11. lalu kelas 12? sudah cukup dengan buku tahunan.
hanya tinggal menunggu hari, saya harus meninggalkan tempat ini menuju bangku perkuliahan.
anyer dan bekasi adalah untaian sejarah tak terputus bagi saya.
semoga kisah lorong gelap bawah tanah, bisa tersinari cahaya mentari di keesokan pagi
-wassalam
Label:
exp
Selasa, 12 April 2011
Klasik: Gajah sekalipun, pernah kecil
"Gak salah punya mimpi gede. ga ada yang larang.
tapi buat mimpi yang gede, harus belajar dari hal yang kecil" -Bokap
tapi buat mimpi yang gede, harus belajar dari hal yang kecil" -Bokap
Label:
exp
Langganan:
Entri (Atom)




